Minggu, 08 April 2018

JANCOK, KRISIS PANGAN DUNIA 2050



Krisis pangan dan krisis moral menjadi perbincangan hangat pada masa kini, di diskusikan di angkringan-angkringan oleh para pemikir bangsa di kelas bawah hingga kelas atas. Mungkin sebuah lelucon jika sebuah sistem dibangun salah, tapi jika kita menyalahkan sebuah sistem tidak akan berkembang dan maju kedepan. Krisis pangan itu entah disebabkan oleh siapa, mungkin dajjal yang menguji untuk bergabung dalam sebuah kemewahan. Ketika sekarang ini teknologi berkembang begitu pesat dan pertanian mulai diacuhkan.
Pemuda desa meninggalkan ladang garapan peninggalan nenek moyang dan bekerja di ladang beton kota metropolitan. Mereka tergiur oleh gaji yang sangat besar, namun menurut kajian, upah mereka malah minus. Lebih besar pasak daripada tiang, itulah ungakapan yang tepat. Gaji UMR yang tidak selaras dengan tingginya kebutuhan di kota metropolitan. Mahasiswa turun ke jalan meneriakkan untuk turunnya pemimpin yang sedang berada dalam jabatan, namun mereka sendiri tidak turun langsung untuk rakyat. Birokrasi kampus seakan membatasi mahasiswa untuk berekspresi, LKTI yang hanya tulisan tidak di terapkan di masyarakat seperti membuang-buang waktu saja. Eksekutif mahasiswa tidak menyelenggarakan sebuah event yang membangun keintelektualan, pemecahan rekor muri tanpa arti, bahkan rela menyiksa mahasiswa baru untuk meningkatkan eksistensi dan hasrat untuk membesarkan nama eksekutif mahasiswa.
Para sarjana pertanian, Master Pertanian, hingga profesor pertanian lupa kembali ke ladangnya untuk mengabdi untuk bangsa dan negaranya. Memilih duduk dan bersembunyi di meja kekuasaannya. Pura-pura tidak tahu tentang harga pangan yang semakin melonjak, krisis air dimana-mana, dan kembali lagi ia menyalahkan pemerintah. Solusi yang harus diambil pemerintah, harus mereka teriakkan tepat di telinga sang penguasa. Kita tidak lagi melihat petani membawa pulang ikan dari hasil tangkapan di sawah maupun sungai.
Ini karena orang pertanian menutup mata tentang pembangunan ribuan pabrik tekstil itu, yang mencemari tanah persawahan dengan logam berat hingga kehidupan dibawahnya mati total. Pangan mengandung logam berat, beras mengandung logam berat, semangka mengandung logam berat, pestisida dimana-mana. Air bau tidak enak, apakah ini benar tanda krisis pangan akan terjadi 2050? Ketika bangsa-bangsa maju dan berkembang kesulitan mengendalikan laju konsumsi rakyatnya. Impor besar-besaran?
Kemana lagi kita mencari orang pertanian? Apakah sawah sudah tidak trend lagi? Jancok, kemana pemuda kita yang dilahirkan dari darah ibu pertiwi? Ini tidak lagi pembahasan tentang ekstrim narasi, ini tidak lagi pembahasan tentang golongan muslim yang bertengkar soal imam, ini tidak lagi tentang golongan yang memfitnah penguasa. Ini tentang pertanian, yang mencakup hasil bumi apapun di dalamnya. Krisis air, ngeri ketika air yang dinikmati rakyat sudah diperjual belikan oleh orang asing. Kemana pemuda kita? Yang meneriakkan tentang rakyat? Aku ingin memulai di hari ini, tanpa penjajah, tanpa antek-antek yahudi dan china. Kemana petani muda kita?

Kamis, 22 Februari 2018

PETANI INI BERPENGHASILAN HAMPIR 100 JUTA RUPIAH


PETANI INI BERPENGHASILAN HAMPIR 100 JUTA RUPIAH
Selama ini profesi petani atau apasaja di bidang pertanian dan peternakan masih dipandang sebelah mata. Padahal di Bogor ada petani yang menanam kangkung menghasilkan Rp 97,2 juta per bulan. Namanya charlie Tjendapati, mantan karyawan Garuda Indonesia dan Chevron menanam kangkung dengan sistem hidroponik bersama Zekky Bakhri dari Jakarta. Bermodal 700 juta rupiah termasuk untuk membeli lahan, peralatan hidroponik dan pembibitan, pmasukan yang didapat mencapai 100 juta per bulan.

Sumber : Yukepo.com

Senin, 04 Desember 2017

PERUBAHAN IKLIM DUNIA KARENA TANAH!!

1970-an berita tentang perubahan iklim diangkat ke permukaan, karena manusia sadar ada yang berubah dengan keadaan iklim kita. 150.000 kematian dan sekitar 5 juta kecacatan pertahun karena meningkatnya jumlah penyakit akibat perubahan iklim di berbagai lokasi, yang mendukung berkembangnya bibit penyakit. Tingginya radiasi ultraviolet juga diperkirakan dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap mikroba dan patogen sehingga manusia dapat terkena penyakit infeksi. Kepadatan, pencemaran lingkungan dan lain sebagainya dapat mempengaruhi timbulnya penyakit infeksi baru (menurut Joe 2010).

            Ozon, sering disebut di media nasional dan internasional karena keberadaanya mampu meyerap porsi sinar ultraviolet supaya tidak berlebihan di permukaan bumi. Terlalu banyak porsi sinar UV sering kali dihubungkan dengan penyakit-penyakit yang berbahaya, tidak hanya kanker kulit saja. Menipisnya lapisan ozon juga akan berdampak pada perubahan iklim yang terjadi di bumi. Sinar matahari yang terpancar ke bumi tidak terfilter, sehingga membuat sinar matahari terasa sangat terik, suhu di permukaan bumi semakin tinggi hingga es di kutub mencair yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut terutama diaerah tropis. Hal tersebut yang menyebabkan perubahan iklim di dunia. Lalu apa yang membuat ozon semakin menipis, sehingga menyebabkan pemanasan global yang berujung pada perubahan iklim?
            Banyak hal yang menyebabkan ozon tersebut menipis, dan hampir semua faktor akibat dari perbuatan manusia diantaranya, terlalu banyak kendaraan karena menimbulkan asap yang dapat merusak ozon, penggudulan hutan, asap pabrik industri, penggunaan AC hingga penggunaan pestisida yang berlebihan menjadi faktor penyebab penipisan ozon. Kegiatan pertanian menjadi perdebatan dan sering di salahkan karena rusaknya lapisan ozon, namun di sisi lain manusia harus mencukupi kebutuhan sehari-hari dari kegiatan pertanian tersebut. Kegiatan pertanian yang salah kaprah dalam pengelolaannya akan berakibat buruk bagi lingkungan. Keluarnya gas-gas berbahaya dari aktivitas pertanian akan menyumbang efek negatif bagi lingkungan dan penyumbang efek pemanasan global. Lalu, gas seperti apa yang dapat merusak ozon?
            Dalam sektor pertanian, ada beberapa gas yang disoroti dapat mengakibatkan perusakan lapisan ozon. Diantaranya adalah gas CO2 yang terjadi akibat aktivitas pembakaran sisa atau limbah pertanian itu sendiri. Namun ada gas lain yang lebih berbahaya yaitu gas metana (CH4) yang merupakan salah satu gas rumah kaca dengan indeks potensi pemanasan global 21 kali molekul karbon dioksida. Lahan sawah di Indonesia sekitar 8,08 juta ha, diduga memberi kontribusi 1% dari total global gas metana. Emisi metana dari lahan sawah ditentukan oleh beberapa faktor yaitu tipe tanah, pengelolaan, irigasi, pemupukan dan musim tanam. Penggunaan pupuk yang belum matang menjadikan faktor terbentuknya gas metana. Selain itu, prioritas upaya mitigasi perlu diarahkan pada ekosistem sawah yang memiliki potensi emisi metana tinggi, yaitu pada lahan sawah beririgasi. Strategi penurunan emisi metana lahan sawah dilakukan dengan mengombinasi komponen teknologi rendah emisi dalam budidaya tanaman padi tanpa menurunkan hasil gabah. Lalu, apakah ada yang lebih bahaya dari gas CH4 (metana)?
            Gas yang lebih berbahaya dari gas metana adalah nitro-oksida atau N2O, yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang dihasilkan oleh jasad renik di lahan sawah, yang terdiri atas persenyawaan hara nitrogen dan oksigen menurut A. Wihardjaka. Peningkatan aktivitas manusia dalam penglolaan lahan persawahan bisa meningkatkan kandungan nitrogen tersedia dalam tanah melalui pemupukan Nitrogen dan pemberian pupuk organik. Meskipun emisi gas N2O jauh lebih rendah dari gas CO2, namun gas N2O dapat menyerap panas 300 kali lebih kuat dibanding gas CO2 di atmosfir, selain itu gas nitro-oksida di atmosfir bisa tinggal lebih lama daripada gas CO2 maupun CH4. Lalu bagaimana supaya dapat mengurangi dampak perubahan iklim?
            Seperti yang kita tahu, keluarnya gas-gas tersebut karena akibat input dan pengelolaan tanah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Tanah menjadi kambing hitam karena tanah yang tidak dapat ditanami sesuai kebutuhan di cap sebagai tanah yang tidak subur. Tidak salah ketika manusia ingin bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, mulai dari pangan hingga kebutuhan non pangan. Namun, pengelolaan yang salah, input yang berlebih, menyebabkan tanah tersebut tidak sehat dan tidak aman. Tercemarnya tanah dan air merupakan akibat dari pengelolaan yang salah sehingga tidak aman untuk lingkungan.
            Tanah yang sehat adalah tanah yang mengoptimalisasi sifat dan fungsi tanah itu sendiri, dimana fungsi tanah akan terkait dan memberi dampak yang baik bagi lingkungan yaitu keseimbangan. Lalu, tanah yang aman, ketika keamanan air, lingkungan dan tanah itu sendiri terjaga dengan baik, dimana standart ini paling tinggi yang digunakan oleh ilmu tanah. Kita dapat mengetahui, ketika tanah tersebut baik, subur, sehat dan aman. Sehingga, tanah tersebut menjaga iklim kita, karena keamanan tanah dapat mengontrol perubahan iklim. Perubahan iklim, sebagian besar akibat dari ulah manusia, karena manusia merubah fungsi tanah hanya untuk meningkatkan hasil produksi, namun tidak memperdulikan lingkungan, dan pengolahan yang salah mengakibatkan keluarnya gas-gas yang dapat merusak ozon yang berdampak pada pemanasan global (perubahan iklim).
            Ozon terbentuk karena reaksi O2 dengan UV, sehingga membentu O3 atau biasa kita sebut dengan ozon. Ozon berwarna biru dan beracun jika dihirup oleh manusia. Tanah yang aman tidak menjamin untuk merubah atau memulihkan ozon dengan cepat atau beberapa tahun saja. Namun tanah yang aman menjamin untuk menghambat perubahan iklim. Karena tanah yang sehat dapat mengendalikan dalam mengeluarkan gas-gas beracun perusak ozon, dan lebih banyak memproduksi O2 (bahan pembentuk ozon) sehingga kemanan tanah juga mempengaruhi perubahan iklim yang ada.





            Manusia harus sadar dalam pengelolaan tanah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Disisi lain juga harus memperhatikan lingkungan sekitar, jika ada yang berubah dalam lingkungan tersebut, dari miskinnya biota tanah, air sudah mulai mengering dan bau, tanah sangat keras karena pengolahan yang berlebih. Maka, tanah tersebut sudah tidak aman lagi untuk lingkungan. Pengelolaan yang baik akan mewujudkan pertanian yang berkelanjutan, namun sebaliknya pengelolaan yang buruk akan memperpendek usia lahan menjadi tidak produktif. Karena tanah itu hidup, dapat merubah iklim. Ketika diperlakukan buruk, maka akan berdampak buruk. Ketika diperlakukan baik, maka akan berdampak baik pula. Jaga tanah kita!

Jumat, 15 September 2017

Indonesia Mati Total dalam Waktu 3 - 5 Hari


Oleh : Aji Baghaskara
Tanah air Indonesia. Memang  jika di citrakan dari atas, atau dari udara ada dua elemen yang menghiasi permukaann bumi. Namun, saat ini kita tak sadar bahwa semua itu sudah terganggu, terutama keseimbangan antara tanah dan air. Dua elemen ini sangat penting, dasar dari semua kehidupan di bumi, mulai tumbuhan, hewan, bahkan mikroorganisme yang berupa bakteri dan algae. Ketidak seimbangan itu karena sesuatu hal, dan kebanyakan karena ulah manusia, karena eksploitasi yang berlebih, hingga pencemaran oleh limbah suatu pabrik sehingga kualitas tanah dan air semakin turun. Tanah dan air sangatlah berhubungan erat karena tanah adalah tempat tumbuh kegidupan, dan air adalah sumber benda cair di alam yang sebagian besar makhluk hidup membutuhkan air. Terutama air bersih dan sehat yang dibutuhkan untuk aktivitas keseharian.
Ada beberapa kategori tentang tingkatan air di Indonesia, yaitu air bersih, air layak konsumsi, dan air kotor. Air bersih adalah air yang bebas kuman dan bebas bahan kimia polutan,  air layak konsumsi biasanya melalui proses pengolahan dan memenuhi syarat kesehatan, Air kotor adalah air yang tercemar polutan, mengandung logam berat dan tidak layak di konsumsi oleh manusia. Jumlah air di dunia adalah 2:3 bumi, namun jumlah air asin di dunia adalah 97% dan air tawar sebanyak 3% saja. 2 dari 3 air tawar di bumi terjebak dalam es, sehingga manusia hanya memanfaatkan 1% air dari total air yang ada di bumi. 
World Resources Institute menyatakan dunia akan krisis air pada tahun 2040 dan Indonesia berada pada peringkat 51. Saat ini peringkat atas negara yang krisis air adalah bagian timur tengah seperti Qatar, Bahrain, Kuwait dan sebagainya, namun bukan berarti Indonesia tidak bisa berada pada posisi atas, jika pencemaran air dan penganggulangan krisis air di Indonesia tidak segera di tanggapi. BNPB juga menyatakan hal serupa, yang berhubungan dengan terbakarnya lahan gambut, padahal lahan gambut menyerap banyak air dari permukaan tanah, namun disisi lain jika lahan gambut kering akan mengeluarkan gas rumah kaca yang reaksinya mudah terbakar. Faktor kebakaran hutan juga merupakan penyebab kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, karena hutan menyerap air permukaan dengan jumlah yang banyak. Menurut kompasiana, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan dalam mengurangi kebakaran hutan, namun tidak cukup untuk mengurangi kebakaran hutan, langkah langkah penyimpanan air hujan dengan skala besar serta perbaikan lingkungan dan mengembalikan kelestarian lingkungan menjadi hal yang krusial dalam penyediaan air bersih di Indonesia. LIPI (Lebaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) mencatat tahun 2012 Indonesia menjadi yang terburuk dalam pelayanan akses air bersih dan layak konsumsi se-Asia Tenggara.
            Tema yang diangkat dalam essay ini untuk memberikan perubahan cara berfikir manusia bahwa Indonesia dalam jangka dekat akan terjadi krisis air. Krisis air dapat di tanggulangi oleh teknologi yang seharusnya ada dan sudah berlangsung cukup lama, namun tidak adanya tanggapan dari pemerintah dan kurang sadarnya masyarakat dalam eksploitasi air tanah yang berlebih menggunakan sumur bor, sebab sumber air di dalam tanah semakin dalam. Beberapa data menyebutkan bahwa di Jakarta air tanah tidak lurus atau seimbang dengan permukaan air laut, namun berada jauh lebih dalam di bawah tanah. Fakta yang mengejutkan itu menimbulkan rasa ingin merubah kebiasaan manusia yang negatif dan menanggulangi krisis air. Bisa jadi nantinya harga 1 liter air bersih, lebih mahal dibandingkan dengan harga minyak bumi.
Lingkungan yang baik, akan memberi dampak yang baik bagi kehidupan. Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang seimbang, lingkungan yang dapat menjamin kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Menurut ilmu, lingkungan yang mempunyai vegetasi yang banyak, akan menjadikan lingkungan tersebut stabil dalam gangguan luar. Keragaman suatu vegetasi akan berbanding lurus dengan kualitas dan banyaknya air, di sampng itu kualitas tanah untuk menyerap air juga semakin baik. Menurut Wikantida dalam jurnal “Vegetasion on Soil Water Retention and storage” mengatakan bahwa vegetasi merupakan elemen penyangga kekeringan dan erosi tanah oleh air.
 Kawasan hutan hujan tropis Indonesia terjadi hujan secara berkepanjangan, namun tidak ada bahaya banjir yang mengancam, karena terserapnya air secara banyak pada permukaan tanah tersebut, sehingga air yang terlipas pada permukaan akan sedikit. Berbanding terbalik dengan daerah perkotaan yang kebanyakan dipadati oleh bangunan perumahan dan pabrik. Pada daerah perkotaan air yang jatuh di permukaan bumi tidak di serap oleh tanah, bahkan cuma beberapa persen saja air hujan yang terserap oleh tanah, di dalam pekarangan rumah yang permukaan tanahnya belum di cor atau tertutupi oleh bahan kedap air. Di perkotaan air yang terlimpas akan lebih banyak, karena air hujan banyak yang tidak terserap oleh tanah. Hal ini menyebabkan terjadinya sungai yang meluap karena banyaknya air yang di tampung oleh sungai, lalu terjadi banjir di suatu daerah perkotaan atau padat penduduk seperti Jakarta.
Di daerah kekurangan air, terdapat masalah yang serupa. Pada daerah krisis air tanaman yang tersedia di daerah tersebut tidaklah banyak, bahkan hampir tidak ada, tinggal semak-semak kering sisa hujan beberapa bulan lalu. Hal ini karena dampak dari pengelolaan yang tidak baik. Teknik penyimpanan air yang sudah di terapkan sebagian besar penduduk yang krisis air, yaitu menyimpan air hujan pada musim penghujan dan menggunakannya saat musim kemarau, tidak di terapkan secara makro pada suatu daerah untuk menyuburkan tanahnya kembali seperti semula. Jika tidak mengalirkan air secara berkelanjutan pada musim kering, tanah akan tergerus saat musim hujan dan akibatnya tanah akan keras karena hilangnya unsur mineral dan hara karena lapisan atas atau top soil tanah yang mempunyai bahan organik tinggi akan tererosi. Tanah yang keras sulit menyerap air, karena diselimuti lapisan kedap air yang sangat keras. Menurut ilmu, lapisan tersebut dinamai lapisan padas. Erosi  terjadi karena hantaman air hujan yang mengenai langsung oleh tanah, sehingga lapisan tanah atas yang mengandung banyak bahan organik terhantam lepas dan terbawa oleh aliran permukaan.  Hal ini seperti yang disebutkan Sancayaningsih dan Alanindra pada jurnal Analisis Struktur “Vegetasi Pohon di Mata Air yang berpotensi untuk Konservasi mata air” bahwa vegetasi dapat menahan limpasan permukaan dan memperbesar infiltrasi (penyerapan air oleh tanah). Sehingga tanah tetap terjaga kesuburannya.
Menurut Kasdi Subagyono dan tim, dalam buku “Teknik Konservasi tanah secara vegetatif”  menyebutkan bahwa ada beberapa cara untuk melakukan konservasi tanah dan air, yaitu dengan penghutanan kembali, watani, penanaman strip rumput, penggunaan tanaman penutup tanah, dan sebagainya. Jika dalam perkotaan tidak perlu memaksakan bahwa semua harus bervegetasi, namun ketika ada suatu lahan atau tanaman dan belum di cor oleh lapisan kedap air, maka hal penambahan vegetasi harus dilakukan, karena sangat membantu dalam proses penyerapan air hujan oleh tanah, dan membantu menyimpan air dalam tanah. Pada daerah di luar perkotaan seperti daerah krisis air, teknik konservasi menjadi andalan untuk mengemalikan fungsi lingkungan seperti dahulu, dengan langkah seperti itu akan menanggulangi krisis air di suatu daerah.
            Teknik konservasi tanah dan air di suatu daerah untuk menanggulangi krisis air dan kurangnya air dalam tanah di suatu daerah dengan daerah yang lain penanggulannya berbeda. Teknik konservasi air di perkotaan tidak memungkinkan untuk di terapkan di pedesaan begitu pula sebaliknya. Pada daerah pedesaan atau daerah yang belum banyak penghuninya, pengembalian vegetasi yang telah hilang bisa menjadi salah satu alternatif dalam penanggulangan krisis air. Penanaman kembali lahan yang gundul serta mengembalikan kandungan bahan organik tanah menjadi salah satu ide yang baik. Namun disisi lain, tanaman yang masih muda perlu perawatan khusus dalam pertumbuhannya sebelum tumbuh dan beradaptasi dengan alam di sekitarnya. Tanaman sangat membutuhkan air dan sumber hara yang cukup dalam masa pertumbuhannya, hal ini bisa dilakukan dengan cara menyimpan air hujan dan pemupukan di awal. Penyimpanan air hujan yang sudah menjadi rutinitas warga daerah krisis air dapat diadopsi untuk pengelolaan lingkungan, namun penyimpanan air tersebut dengan skala yang besar seperti pembuatan waduk yang menyimpan air saat musim hujan dan mengalirkan air saat musim kemarau untuk pertumbuhan tanaman. Pengairan dilakukan dengan berkala dan stabil untuk mengurangi kegagalan tanaman dalam masa pertumbuhan. Pemupukan berbeda caranya, pemupukan dengan mencampur pupuk siap diserap oleh tanaman dan pupuk yang lama diserap tanaman dan membutuhkan proses menjadi salah satu pilihan dalam proses pemupukan, dengan cara seperti itu kita tidak perlu memupuk secara berkala, karena pupuk akan menyesuaikan sendiri kapan nutrisinya akan siap diserap oleh tanman yang dibudidayakan. Untuk tanaman cover crop, atau sejenis rumput-rumputan akan tumbuh sendiri sesuai dengan lingkungan di sekitar. Jika langkah-langkah tersebut dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, bukan tidak mungkin, dalam waktu 5 tahun krisis air dapat di tanggulangi. Serta dapat di bantu dengan pembuatan biopori untuk membantu proses penyerapan air oleh tanah.
            Pada daerah perkotaan, memang teknologi konservasi air sekarang adalah sumur resapan, di samping itu biopori juga menjadi pilihan dalam konservasi air di halaman perkarangan rumah. Biopori adalah lubang silindris sedalam 1-2 meter dan berdiameter sekitar 10-15 cm yang berguna untuk mengatasi genangan air, dan meningkatkan serapan air dalam tanah. Berbeda dengan biopori, sumur resapan adalah teknik konservasi air dengan bentuk seperti sumur di gali dengan kedalaman tertentu, biasanya 3-4meter, namun bisa lebih dalam lagi tergantung kebutuhan. Menurut Drs. Robertus dalam Jurnal “Teknologi Konservasi Air Tanah Dengan Sumur Resapan” menyatakan bahwa sumur resapan dapat menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah dan mengisi pori-pori tanah yang akan mencegah terjadinya penurunan tanah. Provisi DKI Jakarta pada tahun 2015 sudah menerapkan sistem sumur resapan, dimana setiap gedung harus mempunyai sumur resapan, dan hasilnya banjir jakarta di beberapa daerah sudah teratasi dengan adanya sumur resapan ini.
            Air tanah merupakan sumber air yang sangat penting bagi makhluk hidup. Kondisi air tanah dan air bersih di negeri kita sudah menurun seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pencemaran lingkungan yang tak ada hentinya. Masyarakat dan pemerintah harus bersatu dalam mengatasi hal berbahaya yang sudah di depan mata, WRI sudah mengatakan bahwa akan ada krisis air besar-besaran pada tahun 2040, bukan tidak mungkin Indonesia akan dijajah lagi, penjajahan dengan menukar negara dengan air. Minyak bumi akan turun dan harga air mineral akan naik. 23 tahun lagi bukan waktu yang sedikit untuk konservasi air dan tanah, karena kita menghancurkan sumber air dan kesuburan tanah dalam jangka waktu yang lama pula. Air yang jatuh dari hujan langsung dialirkan menuju ke laut, dan mengurangi ketersediaan air dalam tanah. Pemerintah yang mempunyai kuasa, harus menggerakan masyarakat yang buta aksara. Pemerintah harusnya lebih tahu keadaan ini karena informasi pemerintah tiada batas. Jika konservasi air ini dijalankan, tidak ada ruginya. Namun jika hanya teknologi yang di galakan, pasti ada ruginya. Masyarakat yang makmur adalah masyarakat yang terpenuhinya 3 kebutuhan pokok, yaitu sandang (pakaian), pangan (makanan+minuman), papan (tempat tinggal). Dari ketiga itu yang terpenting adalah makan dan minum, dari makan dan minum yang terpenting adalah minum. Pada halaman web detik.com 30 November 2009 dengan judul “Berapa Lama Tubuh Manusia Bisa Menahan Lapar dan Haus”, menyebutkan bahwa manusia dapat hidup tanpa air sekitar 3-5 hari, dan manusia dapat hidup tanpa makan selama 8 minggu, dengan catatan manusia tetap minum air.


Rabu, 13 September 2017

EROSI TANAH BERBAHAYA?



          Tingkat kerusakan lahan sangat bervariasi, diantaranya adalah erosi. Erosi tanah merupakan kejadian alam yang pasti terjadi dipermukaan daratan bumi. Besarnya erosi sangat tergantung dari faktor-faktor alam ditempat terjadinya erosi tersebut, akan tetapi saat ini manusia juga berperan penting atas terjadinya erosi. Adapun faktor-faktor alam yang mempengaruhi erosi adalah erodibilitas tanah, karakteristik landskap dan iklim. Akibat dari adanya pengaruh manusia dalam proses peningkatan laju erosi seperti pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan/atau pengelolaan lahan yang tidak didasari tindakan konservasi tanah dan air menyebakan perlunya dilakukan suatu prediksi laju erosi tanah sehingga bisa dilakukan suatu manajemen lahan. Manajeman lahan berfungsi untuk memaksimalkan produktivitas lahan dengan tidak mengabaikan keberlanjutan dari sumberdaya lahan.
          Erosi merupakan sesuatu yang pengikisan oleh air, sehingga tanah akan terbawa ke tempat yang lebih rendah. Pengikisan ini menyebabkan berbagai hal yang sangat mengganggu produktivitas tanah, dalam menunjang makhluk hidup di sekitarnya terutama tumbuhan. Ketika terjadi erosi, maka top soil, atau lapisan bagian atas pada tanah akan tergerus. Padahal lapisan paling atas dalam suatu tanah mengandung banyak hara, dan bisa dikatakan paling subur. Karena, lapisan top soil mengandung bahan organik yang lebih tinggi dibanding lapisan yang diatasnya.
          Erosi menyebabkan kerugian yang besar bagi pemilik lahan, ketika terjadi erosi maka top soil lama kelamaan akan hilang. Sehingga, tanah akan menjadi keras, dan prose sembentukan tanah akan terganggu. Susunan klei, dan debu akan tergerus oleh air, dan menyisakan lapisan sangat keras. Kebanyakan tanaman sulit ditanam apda tanah yang keras.
Erosi yang terjadi pada daerah yang beriklim tropis pada umumnya disebabkan karena hujan. Kemampuan suatu hujan untuk dapat menimbulkan suatu erosi disebut erosivitas. Erosi yang disebabkan oleh air hujan, ketika air hujan menabrak tanah sehingga tanah mulai terkelupas sedikit demi sedikit. Namun, erosi air hujan dapat ditangani dengan perbanyakan vegetasi atau menutup permukaan tanah dengan tanaman rumput-rumputan atau yang lain.  Indeks erosivitas merupakan pengukur kemampuan suatu hujan untuk menimbulkan suatu erosi. Semakin tebal atau derasnya hujan yang terjadi maka nilai erosivitas juga akan tinggi, yang berarti bahwa kemampuan hujan untuk menimbulkan erosi sangat besar (Risnain 2011).
Hubungan antara faktor erosivitas dan kehilangan tanah pada setiap satuan lahan akan berbeda-beda. Hal ini dapat terjadi karena setiap satuan lahan memiliki karakteristik lahan yang berbeda-beda seperti:
1.      kemiringan lereng dimana semakin tinggi kemiringan lerengnya maka semakin besar tingkat erosivitasnya
2.      vegetasi yang banyak dan menutupi tanah akan mempunyai efek sedikit mengakibatkan erosi
3.      pengaruh dari aktivitas manusia seperti contoh pengelolaan yang tidak tepat, akan memperbesar erosi tanah dsb.
Besar kecilnya hubungan antar variabel ini dipeoleh melalui nilai korelasi dengan menghubungan antara erosivitas sebagai sumbu absis dan kehilangan tanah sebagai sumbu ordinat (Arsyad 2006).
Ketika erosi sudah berlebih, dan bahan organik yang merupakan salah satu unsur pembentuk tanah dan struktur tanah akan hilang. Maka struktur akan berubah yang dulunya baik dan mantap, akan menjadi buruk. Ketika struktur tanah buruk, maka akan berpengaruh dalam permeabilitas, atau kemampuan tanah dalam menyerap air dan menahan air tanah akan menurun. Ketika tanah tak bisa menyerap air maka akan air akan melimpas dan menyebabkan banjir sehingga terjadi kekeringan pada saat musim kemarau di daerah tersebut.


Sumber:
Arsyad S. 2006. Konservasi tanah dan air. Bandung: Penerbit IPB (IPB Press)
Risnain D. 2011. Pengaruh Erosivitas dan Topografi Terhadap Kehilangan Tanah pada Erosi Alur di Daerah Aliran Sungai Secang Desa Hargotirto Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo.

Jumat, 11 Agustus 2017

MENGENAL ORGANISASI INTERNAL KAMPUS (MAHASISWA BARU)





Suatu kebanggaan saat saya masuk dalam organisasi internal kampus, dan yang saya tau, saya belum atau tidak akan pernah masuk dalam lingkaran organisasi eksternal kampus. Jadi saat membaca ini, jangan memandang dari sisi kalian yang sudah masuk dalam organisasi eksternal seperti (PMII, KAMMI, HMI, GMNI, IMM, dan lainnya).

Kalau sobat tahu, saya tidak aktif di masa SMP, maupun SMA dalam suatu kegiatan. Bisa dikatakan, saya ini adalah orang yang selalu kontra dengan OSIS, baik SMP maupun SMA. Saat SMA, saya cuma jebolan dari pecinta alam saja, itupun jarang mengadakan event yang serumit event anak OSIS.

Saya mecoba organisasi di kampus, mungkin karena sangat haus akan organisasi, seperti peternak yang kehilangan ternaknya, dan menemukannya kembali. Di situ lah saya mengikuti banyak organisasi. Bahkan, saya pernah mengikuti 5 organisasi sekaligus dan alhasil, banyak kecemburuan ketika saya menitik beratkan kinerja saya dalam satu atau beberapa organisasi saja, yaa seperti yang kalian tahu, diduakan itu sangat menyakitkan, sering kali saya menjadi rebutan antar organisasi.

Kebanyakan mahasiswa, boleh mencoba suatu organisasi pada semester 2 dan beberapa ada yang semester 3, karena mungkin mahasiswa baru dikasih waktu buat mikir selama 1 semester untuk memilih, pilihan yang dia inginkan dan komit di suatu organisasi, atau menggali dan mencari lebih dalam tentang organisasi tersebut. Sebenernya kalau organisasi kampus itu banyak macamnya, apalagi ada yang nasional, bahkan internasional. Organisasi yang bergerak dalam bidang nasional maupun internasional ini beda dengan organisasi ekstern. Kalau organisasi eksternal itu lebih mengkader kita dalam softskill (mental, public speaking, pendekatan, menyelesaikan suatu masalah, dll) nah kalau organisasi nasional dan internasional ini memang tujuannya hanya untuk saling komunikasi, yaa biasanya juga beberapa kajian. Komunikasi ini adalah komunikasi antar univ, atau antar negara. Contoh, Sebuah himpunan mahasiswa prodi/jurusan, mempunyai organisasi nasional yang menghubungkan antar himpunan tersebut. HMP(himpunan mahasiswa prodi) univ A, berhubungan dengan HMP di univ lain, nah yang menghubungkan adalah organisasi nasionalnya.

Yang saya rasakan adalah, semakin tinggi suatu organisasi, maka semakin tinggi pula bahasannya, sehingga menuntut kekritisan kita dalam berpendapat atau mencari solusi dalam sebuah masalah atau konflik. Saya dulu pertama masuk organisasi adalah BEM univ dan BEM fakultas. BEM adalah singkatan dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Yaa kalau di SMA bisa di katakan osis lah. Beda kedua organisasi tersebut adalah jika BEM Univ menjadi penggerak di universitas atau bisa dikatakan dalam segala aspek kampus. Jika BEM fakultas, hanya di fakultasnya saja.

Pada saat masuk ke dalam saya merasa kaget, karena basic saya adalah orang yang bukan OSIS, bahasannya cukup berat dan tekanannya juga cukup berat. Namun setelah 1 semester berlalu ada open recruitmen untuk himpunan mahasiswa prodi (HMP), dan disitu juga saya kaget lagi, karena cara berfikirnya agak lambat dan kurang maju mungkin saya sudah terbiasa menerima tekanan yang cukup berat di BEM, dan saya juga harus menyesuaikan itu jalan fikir anak HMP. Jika tidak, kadang saya yang terus menerus bicara dan mereka hanya terdiam, dan bosan. Ini harus dihindari karena tujuan saya masuk ke dalam HMP untuk meningkatkan kekritisan anak HMP bukan untuk menjatuhkan mental mereka. Berhubung di BEM itu 1 tahun, otomatis setelah masuk HMP saya mempunyai 3 organisasi. 2 bulan kemudian, saya diangkat menjadi BSO BEM Fakultas di bidang sosial masyarakat dan membawahi HMP di fakultas saya, otomatis saya mengurusi BSO BEM ini dan tetap melaksanakan tugas kementerian di BEM Fakultas. Bisa dihitung kalau BSO itu berdiri sendiri, namun di bawah BEM, yaa jadi agak kacau kalau di kira kira, haha. Dan beberapa bulan kemudian saya masuk ke dalam organisasi nasionalnya prodi saya, jadilah saya memegang 5 organisasi. Itu sangat berat dan saya cukup tertekan di sini. Namun alhamdulillah, dengan tertekannya itu saya lebih bisa mandiri dan memecahkan suatu masalah dengan cukup cepat.

Lalu, dimanakah letak beratnya suatu organisasi? Kebanyakan organisasi berat karena eventnya, event di organisasi ini bisa dikatakan besar”, namun dengan model perkuliahan seperti ini yaa bisa dikatakan tidak mendewasakan mahasiswa, terjadilah kekurangan uang karena waktu yang di berikan untuk mencari sponsor, itu sedikit, dan selalu tabrakan dengan praktikum, ataupun kuliah. Menejemen yang di bangun harus kuat, dan merekatkan anggota’’ yang sering hilang entah kemana. Supaya panitia tetap kembali utuh lagi. Disitulah merasa bimbang, antara tugas sebagai mahasiswa dan kewajiban sebagai organisator.

Di dalam sebuah organisasi ada beberapa tingkatan. Namun setahu saya yang paling tinggi itu ada 4 tingkatan, namun rata-rata ada 3 tingkatan. BEM biasanya menggunakan 4 tingkatan dalam menanggung tanggungjawab organisasi:
BEM Univ :
Tingkat 1 : staff (biasanya adalah esekutor dalam suatu event)
Tingkat 2 : Menteri (mengkoordinir staff, menjaga keutuhan staff, bertanggungjawab jika event tersebut bermasalah)
Tingkat 3 : Menteri Koordinasi (memantau tugas menteri dan memastikan keutuhan staff, bertanggungjawab jika event bermasalah, tanggungjawabnya melebihi menteri)
Tingkat 4 : Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa (tugasnya tetap sama, menjaga keutuhan organisasi, menjadi pemimpin dan penengah, orang nomer 1 yang bertanggungjawab jika ada masalah dalam organisasi tersebut)

Sepertihalnya BEM Univ, BEM fakultaspun juga sama, Cuma penyebutannya yang berbeda:
Tingkat 1 : Staff
Tingkat 2 : kepala divisi
Tingkat 3 : Menteri
Tingkat 4 : presiden mahasiswa
Penyebutan tingkatan dan jumlah tingkatan tergantung dari univ masing-masing, yang saya jabarkan tadi adalah yang berada di univ saya.

Jika ada organisasi yang mengadakan event, politik atau sosial. Maka ada lagi yang namanya UKM (unit kegiatan mahasiswa), ini tergantung penyebutannya, setiap univ bisa jadi berbeda. UKM ini berbeda dengan yang saya sebutkan tadi. UKM lebih fokus ke kegiatan yang berupa seni, petualangan, pers, dan lainnya. Yaa bisa di jabarkan menjadi, paduan suara, seni menari, seni gamelan, pecinta alam dan sebagainya. Prinsipnya sama, namun bedanya dengan BEM, UKM tidak terpengaruh oleh politis, kecuali UKM pers atau lembaga pers mahasiswa. Mungkin itu saja yang saya bahas. Lain kali mungkin saya akan menulis tentang konflik yang ada di kampus, dan sebagian besar masyarakat awam pun belum merasakan konflik itu, terimakasih sudah membaca.